PENCATATAN PERKAWINAN TERLAMBAT SECARA MASSAL

PENCATATAN PERKAWINAN TERLAMBAT SECARA MASSAL

Sebanyak 10 pasangan di Kecamatan Sooko melakukan Pencatatan Perkawinan Terlambat secara massal, Pernikahan yang dilakukan di Pendopo Kecamatan Sooko difasilitasi oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ponorogo

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab Ponorogo Ir.Endang Retno Wulandari, MM sebelum dilaksanakan pencatatan pernikahan menyampaikan bahwa Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seseorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga ( rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa ). Pencatatan perkawinan ini untuk penduduk non muslim yang dikarenakan penduduk sudah menikah sah secara agama akan tetapi belum dilakukan pencatatan di Dinas Dukcapil.

Kepala Dinas Dukcapil memastikan pernikahan itu gratis atau tidak dipungut biaya sebab hal itu amanat Undang-undang nomor 23/2013. Sesuai undang-undang tersebut, seluruh dokumen telah disiapkan dan ditanggung oleh Negara. Dalam melaksanakan program nikah massal ini, pihaknya pun tidak akan mempersulit warga menyangkut pemenuhan persyaratan. Asal memiliki kartu tanda penduduk elektronik, kartu keluarga dan akta nikah gereja bagi mereka yang beragama Kristen, pernikahan dapat dilakukan. Ia tak ingin warga menyepelekan pencatatan perkawinan sipil sebab hal itu demi kepentingan anak-anak mereka kedepan terutama menyangkut pengurusan dokumen anak. “Misalnya saat anak mau masuk sekolah, dia tentu butuh akta kelahiran sementara akta kelahiran tidak bisa dibuat tanpa ada akta nikah orang tuanya”.

Bu Retno disapa begitu pelaksanaan pencatatan perkawinan terlambat ini akan direncanakan lagi tahun 2016 agar terciptanya tertib administrasi kependudukan.

Be Sociable, Share!

POLLING LAYANAN

Selamat Datang Di Website Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab Ponorogo. Silakan pilih  polling kepuasan layanan

“Salam 20 Menit”

Puaskah anda terhadap layanan Salam 20 menit untuk akta kelahiran dan akta kematian ?